Mata Air Tirto Marto Berpotensi Sebagai Destinasi Wisata Alternatif

Dipublikasikan oleh Webwisata pada

Mata Air Tirto Marto Berpotensi sebagai Destinasi Wisata Alternatif

Belum banyak yang mengenal objek yang satu ini. Mata Air Tirto Marto berada di Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.

Jika dikelola dengan serius, Mata Air ‘Tirto Marto’ memiliki potensi yang baik sebagai destinasi wisata aternatif di Kabupaten Purbalingga.

Selain memiliki air yang jernih, sebagian warga bahkan mempercayai bahwa mata air tersebut dapat membuat badan sehat dan awet muda.

“Banyak yang percaya, mata air Tirto Marto bisa membuat badan sehat dan awet muda,” tutur Siam, salah seorang warga yang menjaga mata air tersebut.

Menurutnya, mata air Tirto Marto berasal dari tujuh sumber mata air di sekitarnya. Namun, yang cukup besar debit airnya disebut mata air Gede. Enam mata air lainnya, menopang kolam berukuran sekitar 20 meter x 40 meter. Sisanya, dialirkan ke persawahan penduduk dan digunakan untuk sumber air PDAM.

“Warga disini juga memanfaatkan untuk keperluan mandi sehari-hari. Namun, untuk mandi sudah dibuatkan tempat tersendiri,” ujarnya.

Siam mengatakan, jika hari libur seperti hari Minggu, jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari 500 orang. Mereka rata-rata untuk sengaja datang mandi dan membasuh muka.

Kunjungan akan lebih banyak lagi pada malam Jum’at Kliwon. Mereka kebanyakan justru berasal dari luar kota.

Untuk mandi di mata air tersebut, pengelola tidak menetapkan tiket masuk. Di jalan masuk menuju kolam, pengelola hanya menyiapkan kotak.

Tidak ada paksaan untuk memasukan uang kedalam kotak itu. Semua kembali ke kesadaran para pengunjung.

Namun, bagi pengunjung yang membawa mobil, pengelola memungut biaya parkir Rp 5.000,- sedang sepeda motor Rp 2.000,-. Pengelola juga menyewakan karet ban mobil untuk yang ingin berenang. Harga sewa ban Rp 5.000,’ dan tidak dibatasi waktunya. Biasanya pengunjung mandi paling lama satu jam sudah kedinginan.

Saat ini, di sekitar kolam pemandian, memang tidak ada fasilitas yang tertata rapi. Ada bangunan ruang bilas atau ruang ganti, namun berukuran sempit.

Disekitar kolam juga muncul warung-warung yang belum tertata rapi. Beberapa warung ada yang menyediakan mushola dan toilet.

Pengembangan Mata Air Tirto Marto Terkendala Status Kepemilikan Lahan

Kepala Bidang Pariwisata Dinbudparpora Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si mengatakan, potensi mata air Tirto Marto untuk destinasi wisata baru sangat prospektif. Sumberdaya air yang melimpah menjadi hal utama daya tarik wisata tersebut.

Hanya saja, untuk pengelolaan lebih lanjut masih terkendala status kepemilikan lahan. Mata air itu berada di areal lahan seluas kurang lebih 17.800 meter.

Status tanah merupakan milik Pemprov Jateng dan saat ini dalam tahap pelimpahan ke Pemkab Purbalingga. Pihak Karang taruna setempat, memanfaatkan sumber mata air tersebut, namun belum ada perjanjian resmi dengan Pemprov.

“Pihak pemerintah desa setempat, saat ini juga tengah mengajukan permohonan kepada Pemkab Purbalingga untuk mengelola mata air Tirto Marto menjadi obyek wisata,” kata Prayitno.

Ditambahkan Prayitno, selain sumberdaya air yang melimpah, aspek keyakinan keampuhan mata air untuk menyembuhkan penyakit dan mendatangkan berkah, juga menjadi kunci daya tarik pengunjung.

“Jika menjadi destinasi wisata, mata air Tirto Marto tidak harus menjadi kolam renang atau water park, tetapi cukup dipertahankan keasliannya demi kelestarian mata air. Pengelola, cenderung lebih pas oleh kelompok sadar wisata dari masyarakat setempat. Pemberdayaan masyarakat setempat akan mampu mengangkat ekonomi warga setempat,” kata Prayitno.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *