Balitbangprov Jateng Perkuat Agrowisata Serang Lewat SIDa

Dipublikasikan oleh Webwisata pada

Kadinbudparpora memberikan materi pada pelatihan SIDa

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Jateng memperkuat kelembagaan agrowisata di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga melalui kegiatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa).

Desa Serang merupakan salah satu dari 58 desa inovasi di Jateng yang mendapat pendampingan lewat kegiatan ini.

“Di Jateng, kegiatan SIDa dengan sasaran desa inovasi kami tempatkan di 29 kabupaten, dan setiap kabupaten terdiri dua desa. Dari 58 desa se-Jateng yang mendapat program penguatan ini, lima diantaranya bergerak dalam kegiatan pariwisata. Dan Desa Serang ini merupakan satu-satunya desa di Jateng yang mengembangankan stroberi sebagai ikon wisata,” kata Kepala Bidang Prasarana Wilayah Balitbangprov Jateng, Siti Sulami.

Siti Sulami mengungkapkan hal tersebut pada kegiatan pelatihan penguatan kelembagaan inovasi di balai Desa Serang, Karangreja, Selasa (11/8).

Pelatihan yang diikuti para pelaku wisata di desa setempat, juga menghadirkan nara sumber Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Drs Subeno, SE, M.Si,  dan staf pengajar ilmu komunikasi Unsoed, Drs Bambang Widodo.

Diungkapkan Siti Sulami, SIDa merupakan suatu proses untuk menumbuhkembangkan inovasi yang dilakukan antar institusi pemerintah, pemerintahan daerah, lembaga kelitbangan, lembaga pendidikan, lembaga penunjang dan novasi, dunia usaha, dan masyarakat di daerah.

Tiga pilar SIDa yang diterapkan masing-masing untuk desa inovasi, kluster dan kabupaten/kota inovasi.

“Melalui kegiatan penerapan SIDa di Desa Wisata Serang, diharapkan ada inovasi-inovasi yang bisa diterapkan untuk pengembangan agrowisata sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Siti Sulami.

Siti menambahkan, selain penguatan kelembagaan, melalui kegiatan SIDa, Desa Serang akan dibantu peralatan khusus untuk mendukung kegiatan outbond dan peralatan pengolahan makanan berbahan baku dari stroberi.

Kepala Desa Serang, Sugito mengungkapkan, keberadaan kebun stroberi dan rest area Serang memberikan dampak ekonomi kepada warga masyarakat.

Untuk satu hektar kebun stroberi, bila dikunjungi 2.000 orang bisa menghasilkan pendapatan Rp 30 juta. Di Desa Serang saat ini tercatat seluas 45,525 ha, dengan Jumlah Petani : 454 orang. Sementara produksi  stroberi mencapai 1,5 sampai 2 ton sehari.

“Pengembangan agrowisata khususnya stroberi jelas sangat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa kami,” kata Sugito.

Kepala Dinbudparpora Purbalingga Subeno mengungkapkan, potensi agrowisata Serang sangat bagus sebagai salah satu destinasi wisata di Purbalingga.

Selain potensi stroberi, juga ada potensi sayur mayor. Luasan lahan sayuran mencapai 556,2 hektar yang digarap oleh 1.253 petani.

Potensi lain yang mendukung untuk wisata yakni udara sejuk karena lokasi desa berada di kaki Gunung Slamet. Dari sisi aksesabilitas, Desa Serang menjadi jalur penghubung antara wilayah Tegal, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas.

“Animo wisatawan yang dating juga sangat banyak, jumlah pengunjung pada libur lebaran lalu tercatat hingga 37 ribu wisatawan. Ini sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata agro yang berkelanjutan,” katanya.

Subeno menyarankan, selain menggencarkan promosi melalui berbagai media, pelayanan yang prima dan penuh keramahtamahan akan sangat menentukan tingkat kunjungan wisatawan di masa mendatang.

“Para pelaku wisata harus menerapkan Sapta Pesona Wisata, tidak saling menjegal antar sesama petani stroberi, dan kompak dalam satu kelembagaan kelompok sadar wisata,” ujar Subeno.

Subeno menambahkan, untuk mengurangi gejolak antara petani stroberi agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat dalam hal harga, pihak pengelola desa wisata, harus membuat tata aturan yang jelas.

Pemilik kebun stroberi yang berada di tepi jalan juga harus diberikan porsi sama dengan pemilik kebun yang lokasinya tidak di tepi jalan. Kecenderungan wisatawan, mereka lebih akan datang  ke kebun yang berada di tepi jalan atau aksesnya mudah dijangkau kendaraan.

“Aturan semacam pembagian kunjungan wisatawan ke kebun stroberi juga perlu dilakukan secara cermat dan merata,” tambahnya.

Baca Juga:

Tinggi, Minat Kembangkan Desa Wisata di Purbalingga


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *